Minggu, 13 Agustus 2017

YOU INSPIRING ME, MY SISTA

Hari sudah beranjak pagi ketika aku kembali menghitung bintang. Sama saja seperti malam-malam yang telah lalu, aku sendirian. Membuka jendela kamarku, menyibakkan tirainya, lalu tiduran di kasur yang memang sengaja kuletakkan di dekat jendela. Malam telah menjadi sahabatku sejak sebulan lalu, ketika aku divonis menderita Insomnia. Beberapa kali resep yang kutebus di apotek seberang jalan menjadi tak berguna, karena aku malas meminumnya. Biar saja, toh itu uang Shasa kakakku.

Shasa 5 tahun lebih tua dariku, tapi ia merasa seolah menjadi pengganti ibu. Mungkin karena Ibu menitipkan diriku padanya, sehingga aku terpaksa menerima perlakuannya yang over protektif. Shasa sangat beruntung dan juga cerdas, ia mendapatkan pekerjaan yang mapan selepas lulus kuliah setahun lalu. Shasa kini menjadi salah seorang senior accountant di perusahaan advertising. Jabatan yang cukup diperhitungkan, mengingat baru setahun di sana, itupun jika magangnya ikut dihitung juga. Shasa sangat menonjol sejak kecil. Nilai akdemisnya selalu bagus, almarhum ayah dan juga ibu selalu memujinya di depanku dan juga orang lain. Kata-kata mereka yang selalu terngiang adalah, "Lihat kakakmu. Tirulah dia."

Menjadi bayangan Shasa sangat sulit bagiku, aku tidak terbiasa dengan otak kiri seperti dia. Aku susah untuk mengikatkan diri pada komitmen, harus belajar, harus tekun, harus rajin, ah sangat menyiksa. Sekolah bagiku adalalah penjara, aku hanya memenuhi nilai minimal agar lulus atau naik kelas, karena aku lebih suka menulis.

Menulis menjadi pelarianku, sejak aku bisa membuat huruf "a" dengan sempurna di kelas 1 SD. Kutuliskan semua kisahku dalam buku diary yang akhirnya kubakar setelah halamannya penuh. Iya, begitulah aku membuang semua gundah di hatiku, rasa kesal, kecewa, bahkan rasa bahagia ketika mengenal cinta pertama. Meskipun kisah cinta monyet itu akhirnya hanya menjadi cerita yang berakhir tanpa ada kejelasan.

Mam Vivit, guru bahasa Indonesia sekaligus bahsa Jepang melihat bakatku menulis di kelas 1 SMA. Suatu hari beliau menuliskan sesuatu tepat di bawah nilai '9"yang dia berikan pada tugasku.

"Jadikan ceritamu menjadi inspirasi, bukan sekedar untuk meratapi"

Aku sempat kaget bagaimana beliau tahu, jika tugas cerpen yang kubuat itu adalah kisahku sendiri. Tentang kebencianku pada Shasa. Entahlah, sejak itu aku semakin rajin menulis cerita, bahkan kembali semangat untuk sekolah. Setidaknya nilai bahasa Indonesia dan Bahasa Inggrisku stabil di angka 9.

Sebelum semester 2 berakhir aku mengutarakan keinginanku masuk di jurusan Bahasa kelas 11 nanti. Tetapi ayah dan ibu marah. Beliau berdua menginginkan agar aku memilih jurusan IPA, lagi-lagi seperti Shasa. Padahal Shasa saat itu kuliah di jurusan akuntansi karena lolos SBMPTN di pilihan ketiga . Meleset dari keinginan mereka agar Shasa kuliah di kedokteran..

Aku mengancam tidak mau sekolah jika dipaksa masuk IPA, sampai akhirnya ayah jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Aku sangat terpukul dan merasa sangat bersalah pada ayah, meskipun dokter mengatakan bahwa kanker paru-paru ayah yang sudah stadium 4 menjadi penyebabnya. Ayah memang seorang perokok aktif, meskipun beliau hampir tidak pernah merokok di dalam rumah.

Akhirnya aku mengalah masuk jurusan IPA. Setiap hari mati-matian belajar dan les sana sini, agar aku bisa mendapatkan nilai bagus. Tetapi semuanya hanya rencana, bahkan sampai otakku berasap belum juga masuk 10 besar. Di kelas 12 IPA aku mencoba menjalani hidup tanpa terlalu ambisi menyamai Shaha, dan kembali menulis.

Sekarang aku disini, di kota asing. Memandangi bintang-bintang, setelah sebelumnya menuliskan kisah-kisah yang ada dalam memoriku. Menarikan jemari diatas keyboard laptop, diiringi lagu yang entah apa judulnya dari youtube. Novelku sudah masuk ke penerbit, dan tinggal menunggu proses selanjutnya. MOU sudah ditanda tangani, dan proof reading sekarang sedang kujalani. Semoga segera lahir novel-novel selanjutnya.






YOU INSPIRING ME, MY SISTA

Hari sudah beranjak pagi ketika aku kembali menghitung bintang. Sama saja seperti malam-malam yang telah lalu, aku sendirian. Membuka jendel...